Duluu.. Gua selalu terkagum2 akan betapa murahnya biaya pengiriman surat via pos.

Bayangkan, ngirim ke berbagai penjuru Indo, hanya perlu sekian ribu πŸ˜€

Kadang karena kasian ma Mr. P! yang udah panas2an bermandikan keringat, gua suka melebihkan perangko yang gua tempel di surat.

*baru kepikiran sekarang mending dikasih langsung aja ke orang-nya :p*

And it took me a (so very) loong while before I finally saw it from another angle.

Man oh man, ohh man!

Bayangkan betapa banyak keuntungan yang diraup dari penjualan perangko dan materai yang selembarnya dijual seharga puluhan hingga ratusan ribu! Per lembar ‘bo! Padahal ongkos cetak paling berapaan sih?

Sejak murahnya tarif sms dan nelpon via hp, demam internet dan maraknya situs penyedia e-greeting gratis plus kesadaran untuk mengurangi konsumsi kertas demi kelestarian hutan, penjualan perangko mungkin terpukul karena banyak yang tadinya mengirimkan surat dan kartu ucapan manual yang mulai beralih melirik penyampaian ucapan secara elektronik.

Lalu halo apa kabar donk dengan materai?

Ohoho, tenang, untuk yang satu ini aman terkendali kok.

Jual barang dagangan? Jangan lupa materai-nya!

Buka rekening di bank? Materai lagi donk.

Surat perjanjian? Materai, materai.

Udah aahh, cape ngomongin materai n perangko karena gua mau lanjut ke soal kehidupan :p

Mungkin dalam hidup juga seperti itu ya. We need to see things from different angles, broaden our perspectives and allow ourselves to explore the same objects from many different sides.

Who knows, we might find some interesting info related to things that oftentimes we took for granted πŸ˜€

Advertisements