Ada satu bagian dari buku yang lagi gua baca, Anne of Avonlea by L.M. Montgomery, yang lumayan mengusik jadi mending gua tulis aja dhe biar ga menuh2in otak, ha3 :p

Percakapan berikut terjadi antara Anne dan tetangga barunya.

Kenapa sih kamu selalu mengatakan sesuatu tentang rambut merah saya?

Lho? Rambut kamu khan memang merah.

Tapi kenapa kamu ngga muji hidung saya yang bagus aja daripada terus mengejek rambut merah saya?!

Khan kamu udah tau hidung kamu bagus!

Lha terus kamu pikir saya ga tau kalo rambut saya merah?!

Wakakakak.. Gua ngakak pas baca bagian ini.

Tapi setelah tawa gua usai, gua malah jadi meringis menyadari kebenaran dari cuplikan percakapan di atas :p

Sadar atau ngga, banyak dari kita yang mungkin sering berlaku seperti itu.

Dengan mudahnya kita melontarkan celaan, atau bahasa halusnya ‘kritikan’, (never like this word coz auranya negatif walau *psstt* Virgorian terkenal sebagai tukang kritik lho, wakakak :p) dibanding memberikan pujian.

Kalo nurutin kemauan mah ada aja yang dicela or dicari sisi negatif-nya sementara giliran disuruh muji tiba2 lidah jadi kelu dan kehilangan kemampuannya berkata2.

Padahal tau ga seeh bahwa dibutuhkan minimal 7 komentar positif untuk menetralisir 1 komentar negatif!

Yupp, segitu destruktif-nya efek dari komentar negatif ‘bo..

Jagalah lidahmu karena sekali kalimat itu diucapkan keluar maka ngga bisa ditarik kembali.

Kalo ngga bisa membuat orang merasa lebih baik tentang diri mereka, setidaknya bantulah mereka dengan ngga membuat mereka merasa lebih buruk tentang dirinya 🙂

And always remember..

You get what you give, it’s all coming back to you in a way you might never imagine before.

Jadii.. lebih baik menanam benih kebaikan bukan daripada menebar benih kebencian? :p

Advertisements