Ada saat dalam hidup gua di mana gua ngerasa seperti sedang hidup di padang pasir.

Tau donk padang pasir, gurun, atau apapun namanya lah.

Itu tuh yang di mana2 sepanjang mata memandang, yang bisa diliat cuman hamparan pasir aja.

Panasnya?

Jangan ditanya!

Walau katanya sih kalo malam hari dingiin bener.

Tapi gua mo fokus ke panasnya aja :p

Hidup di padang pasir yang disirami teriknya panas mentari yang menyengat bangets tanpa adanya pohon rindang untuk tempat berteduh, otomatis pasti bikin tenggorokan cepet bener haus, airr aiirrr.. di manakah dirimuu?

Keinginan untuk memuaskan rasa dahaga yang seringkali membuat mata serasa melihat sumber mata air di kejauhan yang ketika dihampiri ternyata hanya fatamorgana belaka.

Gua ngga akan membahas padang gurun yang sebenernya, karena as you know, gua males nyari2 info, wakakakak..

Soo.. I’m gonna stick with my own kind of desert, yang mana tiap di kala malam sekalipun, hembusan anginnya membawa hawa panas yang bikin gerah.

Ketika berada di padang pasir ini, yang paling gua nantikan adalah turunnya hujan, namun seberapa seringnya gua menarikan tarian hujan, sang hujan enggan menyapa, awan mendung hanya sekedar melintas dan bersemayam sementara untuk kemudian kembali berlalu tanpa meneteskan air sedikitpun.

Hingga suatu hari.

Tanpa terduga.

Hujan yang dinantikan itu pun turun.

Tapi lagi2 sang hujan hanya datang menggoda, karena dia tau gua amat merindukan dirinya, akhirnya dia memutuskan untuk singgah, hanya sejenak, sekedar menyapa dan menurunkan setetes air saja di tengah padang pasir yang gua miliki.

Setetes hujan di tengah padang pasir.

Can you imagine that?

Yang kehadirannya bahkan ngga gua sadari karena ketika tetesan itu jatuh menyentuh pasir di suatu tempat, gua sedang mengarahkan mata ke tempat yang lain.

And menurut kalian, seberapa ngefeknya sih setetes air di padang pasir yang segitu luasnya ituu?!

Yang membuat gua akhirnya tersadar.

Masalahnya bukan ada pada hujan yang jarang turun.

Masalahnya lebih karena gua memilih untuk tetap tinggal di padang pasir itu.

Gua udah terlalu lama berada di padang pasir itu sehingga lupa betapa menyenangkannya hujan itu.

Karena andai hujan yang kemaren ini turunnya ngga hanya setetes sekalipun, gua akan selalu bisa menemukan sesuatu untuk dikeluhkan karena tubuh gua udah terbiasa akan panasnya udara gurun sehingga gua ngga siap menyambut hujan.

Bukan salah hujan andai curahan airnya ngga bisa menumbuhkan rumput, apalagi bunga di padang pasir gua.

Buktinya hujan yang sama yang tercurah di lain tempat bisa menghijaukan tanah dengan rumputnya yang tumbuh subur.

Di tempat lain, hujan yang sama bisa menyemarakkan halaman dengan bunga yang warna warni dan wangi semerbak.

Kalo gua emang pengen hujan menyuburkan rumput dan bunga di tempat gua then I should move from the desert karena di padang pasir gua ini, betapapun gua menanam benih rumput dan bunga terbaik, mereka ngga akan bisa tumbuh di padang pasir ini karena mereka ditanam bukan di tempat di mana mereka bisa bertumbuh kembang.

Jadi mana yang salah kalo githu?

Siapa yang salah ketika hujan itu turun, gua ngga bisa menikmati irama nyanyiannya yang melantunkan dentingan indah, gua ngga bisa merasakan tetesannya yang dengan lembut membelai ketika gua mengulurkan tangan untuk menyambut kehadirannya?

Hujan? Atau gua yang ngga cukup peka untuk meluangkan waktu untuk meresapi dan menikmati kehadirannya?

Hmm..

Pssttt.. tentu aja semua di atas itu hanya kiasan, ahahaha :p

Yang sebenernya mo gua omongin ituu..

Pernah ngga sih nyimpen suatu perasaan negatif sedemikian lamanya dalam diri kalian, bisa berupa kemarahan, kesedihan, kekesalan, dllsb, pokoknya yang negatif2 aja dhe silahkan disebutkan.

Sedemikian lamanyaa.. yang secara perlahan namun dan seringkali tanpa disadari mulai menggerogoti hidup kalian?

Yang mana kita baru mo “memaafkan” kalo pihak satunya lagi itu yang duluan minta maaf ke kita dan mulai berbaik2 ke kita lagii baru dhe kita akan memaafkannya.

Well..

You can wait.. and you might have to wait forever.

Karena andai pihak mereka berubah sikap sekalipun terhadap kita, well.. surprise surprise.. hasilnya seringkali ngga sesuai seperti yang kita harapkan.

Pernah ngga bergumam dalam hati or mengumandangkan dengan suara lantang :

“Elo pikir kesalahan elo selama ini bisa terhapus hanya dengan seucap kata maaf dari elo?! Githu?! Please dhe aahh..”

Sounds familiar?

Ngga? Selamaatt!!

Ajarin donks rahasianya, ahahaha šŸ˜€

‘Boo.. mereka bisa minta maaf sambil berlutut di hadapan kita, tapii.. hanya ketika kita memutuskan untuk melepaskan segala emosi negatif itu dari dalam hati kita lah baru kita bisa merasakan suatu rasa bebas terlepas dari cengkraman emosi negatif yang selama ini menghantui hidup kita.

Easy to say, hard to do?

Aahh.. bukankah itu biasa?! :p

Soo..

I guess now..

I want to move from my own desert, it’s not always bad living in there, but kalo gua tinggal lebih lama lagi di sana, gua akan lebih banyak kehilangan keindahan dunia ini.

Sekarang gua lagi mo mencari padang rumput or padang bunga aja dhe ^o^

Wish me luck, otree?!

Ntar kalo gua udah nyampe and tinggal di sana, gua kirimin postcard dhe šŸ˜€

Ciaoo..

-Indah-

Advertisements