Ngebaca notes-nya si Lalaa yang “Where Does Love Go?”, hmm.. jadi bertanya2 sendiri ngga seeh, ke mana perginya cinta yang dulu pernah sedemikian membaranya?

Komen gua di notes FB-nya dia beda ama di blog-nya, wakakakak..

Udah tau khan kalo gua bisa punya banyaak pendapat akan suatu hal yang sama? :p

Di notes-nya gua bilang : Mungkin cinta itu memang ngga pernah ada di sana sejak awalnya, apa yang dulu mereka anggap sebagai cinta ternyata mungkin hanyalah berupa lust, atau apalah githu (gua juga udah lupa apa yang gua komenin, wakakakak :p).

Sementara di blognya gua komen : Kalo udah ngga ada cinta dalam rumah tangga gua maka gua akan pilih pisah.

Again, gua lupa komen tepatnya gimana, hihihi.. Padahal komen gua sendiri githu yaa, kenapa bisa lupaa :p

Ahaa.. gua copy paste aja dhe, mumpung lagi buka blognya si Lalaa 😀

Hmm.. buat gua pribadi ketika “cinta” udah ngga ada lagi dalam pernikahan gua, gua ngga mau tetap stay in that marriage :p

Karena apa?

Contoh apa yang mo gua kasih ke anak2 gua dengan stay in a marriage yang tanpa rasa cinta?

Punya ortu yang always in a fight sama menyiksanya dengan punya ortu yang hidup bagaikan 2 orang asing yang ‘kebetulan’ berbagi rumah yang sama hanya karena terikat janji untuk setia sehidup semati.

Tapi yaa.. itu balik lagi terserah ke orang masing2 karena there’s no right or wrong in this. Tergantung nilai yang mereka pegang tuh gimana.

Anywayy..

Kalo ngomongin soal perpisahan gini, gua jadi teringat ama salah satu episode Oprah yang membekas bangets dan masih tertinggal dalam pikiran gua walau udah sekian tahun berlalu *sepertinya, ahahaha :p*

Ada seorang ibu, kalo ngga salah inget sih udah 50 something githu dhe.

Dia punya 2 orang anak and keduanya telah menikah.

Setelah sekian puluh tahun hidup berumah tangga, akhirnya sang ibu memutuskan untuk berpisah dengan suaminya.

Si ibu itu bilang kalo alasan kenapa dia tetap bertahan dengan suaminya selama ini adalah demi anak2nya, nah berhubung sekarang anak2nya udah pada menikah dan keluar rumah semua, dia merasa udah ngga ada lagi alasan untuk melanjutkan hidup bersama dengan sang suami.

Don’t know why hal ini bikin gua tercenung cukup lamaa..

Gua ngga bisa bilang kalo gua memahami perasaan anak2 yang orang tuanya bercerai karena gua ngga mengalami apa yang mereka alami, I can only imagine being in that position and wondering how it might have been like.

And imagining is far different than actually be in that position.

Gua rasa banyak di antara anak2 yang orangtuanya memutuskan untuk bercerai, mempertanyakan kenapa seeh mereka ngga tetap bersama aja dalam pernikahan.

Having both parents are wayy better daripada harus memilih salah satunya aja.

Hmm..

Gimana yaa?

Gua mikir posisi anak si ibu di acara Oprah tersebut.

In the end gua menyimpulkan bahwa yang penting itu bukannya having both parents atau cuman salah satu aja sih, tapii.. how much love yang ada dalam kehidupan elo.

Punya orangtua yang tetap bersama tapi udah ngga ada cinta lagi dalam keluarga itu juga ngga bagus buat pertumbuhan sang anak.

Ketika orangtua memutuskan untuk tetap bersama hanya demi menghindari kata cerai tapii mereka menjalani hidup sebagai suami istri either dengan perang terus every single day atau malah being totally strangers one to another, they are just like housemates tapi yang membedakannya adalah mereka punya surat nikah.

Ngga saling bertegur sapa satu sama lain, and hubungannya dingin bangets, masing2 jalan sendiri tanpa peduli apa yang dilakukan oleh pasangannya.

Hmm..

I don’t think it’s an ideal place for children to grow up to either.

Mungkin ada banyak anak2 di luar sana yang saat ini sedang berteriak2, “Kenapa kalian ngga bercerai aja seeh and stop making this Earth feels like Hell!!”

You’ll never know khan?

Don’t get me wrong.

Dari dulu gua selalu merasa sayang akan yang namanya perpisahan, walaupun gua ngga kenal ama orang yang bersangkutan.

Tapii..

Hmm.. ngga tau kenapa, makin ke belakang gua makin merasa emang ada akhir untuk segala sesuatunya.

Pernikahan ngga bisa hanya dijalankan oleh satu orang aja.

It takes two to tango.

Harus ada dua hati yang mau mempertahankan apa yang dulu membuat mereka mengucapkan janji untuk setia sehidup semati.

Ngga bisa hanya sepihak aja karena biduk rumah tangga itu khan berat.

Balik ke soal ibu yang tadi.

Gua membayangkan bagaimana rasanya hidup sebagai anaknya ketika mengetahui ortunya bercerai.

Skenario pertama, mungkin selama ini ortunya emang sering berantem jadi ketika akhirnya sang ibu menuntut cerai, sang anak udah ngga kaget lagi.

Heyy.. jangan menyepelekan perasaan seorang anak, you know.

They learn the most from the way you behave, bukan dari apa yang elo omongin, they have some kind of radar to detect the truth.

Skenario kedua, all these times their parents have been together, si ibu faked her own feelings demi untuk menjaga perasaan anak2nya.

Kalo yang kaya gini lebih susah dideteksi. Kecuali tuh anak sensitif bangets and can see beyond what the eyes can see.

Yang membawa gua teringat akan episode Oprah lainnya dengan dr. Robert Holden dengan buku “Happiness Now”-nya yang mana dari 5 orang yang “diukur” kadar kebahagiaan mereka, ada seorang ibu yang menurut Oprah dan para hadirin yang diminta nge-vote, memilihnya sebagai salah satu peserta paling berbahagia dalam hidupnya.

Oprah aja ampe kaget pas tau kalo ternyata ibu itu ada di bottom 2 dari mereka yang paling ngga berbahagia!

Kata Oprah, “Gua berada di sebelah elo, berasa bangets happy vibe-nya, makanya gua kaget kok elo ternyata ngga berbahagia!”

Pernah ketemu ama orang seperti itu?

Yang memancarkan energi bahagia bagi orang2 di sekitarnya, yang selalu mencerahkan hari orang di manapun dia berada.

Have you ever stopped and wondered.. apa dia benar2 happy?

Karena sekarang gua ngerasa orang yang terlalu sibuk memastikan orang lain itu harus bahagia, adalah orang yang paling perlu untuk merasakan bahagia.

Maksudnya?

Sometimes when people are too busy with others lifes, bagaimana mungkin dia punya waktu untuk dirinya sendiri?

Karena semua energinya udah terkuras untuk memastikan kebahagiaan orang lain sehingga no energy left buat dia membahagiakan dirinya.

Balik ke si ibu yang minta cerai itu.

Kalo anaknya selama ini ngga bisa mendeteksi bahwa ibunya ngga bahagia dalam pernikahannya.

Hmm..

Kalo gua jadi sang anak..

Gua akan merasa dunia gua runtuh.

Terlebih kalo gua menjadikan kisah cinta orang tua gua sebagai panutan gua.

“I wanna be like them when I start my own family!!”

Hmm..

Ternyataa.. apa yang selama ini gua pikir “nyata” hanyalah hal “semu” belaka?!

Semua apa yang gua percayai pasti bakal runtuh dan hancur berkeping2.

And gua akan merasa bersalah bangets ama nyokap gua itu akan ketidakbahagiaan dia selama hidup dengan bokap gua, hanya demi gua, demi gua yang bahkan seringkali ngga ngerasain pengorbanan dia.

I don’t know what I have to believe anymore, kalo gua ada dalam posisi si anak yang ibunya minta cerai itu.

Gua sebenernya ngga rela lhoo ama pasangan yang udah bercerai terus mereka hidup berbahagia dengan pasangan barunya, wakakakak *sadiss*

Bukannya gua ngga percaya kalo people can learn from their mistakes, tapii tetepp.. gua ngga relaa.. kenapa mereka ngga learn from their mistakes-nya while they are still in the marriage!! Kenapa mereka ngga belajar dengan suami atau istri yang duluu?!

Gua juga termasuk tipe yang ngga relaa.. kalo mantan suami ama istri yang duluu kaya kucing dan anjing, ketika mereka berpisah, mereka malah rukun bangetss..

Bukannya gua lebih demen mereka gontok2an, cuman gua ngga relaa.. kenapa mereka ngga rukunnya pas lagi hidup bersama seeh?!

But well..

Kedekatan secara fisik bisa menimbulkan banyak gesekan, living together with someone bisa terasa terlalu menyesakkan.

Makanya gua suka bingung kalo orang komentar gini ngeliat temannya yang belum juga menikah walau umurnya udah cukup “matang” untuk membina rumah tangga, “Cari pasangan tuh jangan terlalu pemilih, kalo elo terlalu pemilih ya susah dapatnya!”

Lhaa? Helloo..

Ini (idealnya) buat sekali seumur hidup githu lhoo, ya ngga ada salahnya donks jadi picky!

Emangnya segampang itu kalo udah nikah, ada gesekan dikits langsung ceraii?!

Kalo emang punya prinsip kaya githu seehh ya jelas ngga usah milih2 akan pasangan yang akan dinikahi nantinya, toh gampaaang kalo udah ngga cocok yaa tinggal cerai aja bukan?!

What I realized lately adalah bahwa.. you need to be a whole person first, you need to be happy with yourself whatever you are, supaya elo ngga mentransfer segala kekuatiran elo, ketakutan elo, trauma2 masa lalu elo dalam kehidupan elo sebagai suami istri, ataupun sebagai bapak and ibu dari anak2 elo nantinya.

Yupp.. being happy itu penting bangets.

Karenaa.. hanya happy people yang bisa membawa kebahagiaan untuk orang lainnya.

Happy from within, not a fake one.

Each of us carries our own wounds with us and we have to deal with them though we might never know why we had to go through all those pains in the past (and might still have to suffer in the present time).

Beberapa luka bisa disembuhkan oleh waktu, tapii ada banyak luka yang harus disembuhkan secara proaktif oleh kita sendiri supaya luka itu ngga terus berdarah sepanjang masa.

And mm.. apa belakangan ini gua jadi makin pesimis yaa?

*emang pernah optimis? :p*

Cuman menurut gua yaa.. perlu hati2 ama orang yang kelewat gampang mengucapkan kata “selamanya” karena mungkin dia ngga menyadari arti dari perkataannya itu bahwa selamanya ituu.. lamaaaaaa bangetss bleehh!!

“I will love you foreverrr!!”

Elo yakiiiinnn?!

Baru kenal berapa lama sih ampe udah mau menjanjikan “selamanya” githu?

We’ll never know what’s gonna happen in the future.

“I promise I won’t ever make you cry!!”

Lhaa?!

Even diri gua sendiri kadang ngga tau hal apa yang bisa memicu turunnya airmata gua! Bagaimana bisa elo menjanjikan hal itu padahal you only know me for some time githu lhoo..

Huahahaha..

Belakangan ini hawa nyolot gua lagi kenceng bangets neehh :p

Otree dhee.. segini dulu ajaa..

Pastinya seehh.. buat para orangtua gua hanya bisa berharap, whether you decided to stay in your marriage or not, make sure that your children know kalo kalian sayang ama mereka and andai kalian memutuskan berpisah sekalipun, jangan lupa kasih tau mereka bahwa bukan mereka penyebabnya, things just don’t work out between their mommy and daddy but they can still have both of your loves.

Penuhilah rumah kalian dengan cinta karena in the end, love itself that can strengthen you through the hardships of life, so make sure you have enough ammunition in your house so each of the person in that house won’t falling apart when the going gets tough.

Ahahaha.. sekian dulu kesoktauan gua :p

Daaahhh..

-Indah-

Advertisements