.. at least we can understand it more!

Years back then di tabloid Bola ada “sekilas” cerita tentang neneknya Schumacher bersaudara.

Pada tau ngga Schumacher yang gua maksudkan itu siapa?

Yupp.. ngga lain and ngga bukan adalah kakak beradik Michael Schumacher and Ralf Schumacher, keduanya terjun di F1 sebagai pembalap.

Michael Schumacher atau yang lebih dikenal dengan panggilan Schummi adalah juara dunia sekian kali, sementara sang adik walau kariernya ngga semengkilap sang kakak, tapi tampangnya oke juga, upss.. I mean, prestasinya ngga jelek2 amat, ahahaha :p

Kenapa jadi ngomongin mereka berdua?

Karena di Bola itu dimuat berita pendek tentang neneknya Schumacher yang tinggal di apartemen sempit subsidi pemerintah terus hidupnya juga pas2an hanya dengan tunjangan dari pemerintah aja.

Kehidupan yang membuat banyak orang menudingkan jari telunjuk mereka ke Schumacher bersaudara sambil menggelengkan kepala dan ngga lupa mengeluarkan komentar2 pedas tentang betapa “tega”nya mereka terhadap nenek mereka sendiri!

Betapa tidak?

Orang kalo udah terjun sebagai pembalap itu penghasilannya ngga main2, mann.. apalagi si Schummi juara dunia githu lhoo otomatis koceknya itu pasti tuebeel bangets, masa iya seeh ngga bisa memberikan penghidupan yang layak buat sang nenek?!

Hmm..

Pertama kali membaca berita ituu..

Yang ada di pikiran gua cuman satu, yaitu :

Well.. you don’t know how that grandma treated her own grandchildren back then when they were still “no one” khan?

Yupp.. there must be some reasons di balik kecuekan Schumacher bersaudara terhadap neneknya yang hidup sendirian di apartemen sempit dengan uang bulanan yang juga pas2an itu.

Kalo mo ngikutin istilahnya si Lalaa, have you seen their childhood?!

Mungkin aja dulu sang nenek suka menyiksa cucu2nya itu.

Atauu.. sama cueknya seperti kecuekan mereka sekarang terhadapnya?

Banyaaak bangets pengandaian yang seolah bisa “membenarkan” sikap kedua Schumacher bersaudara itu.

I always think that what you give is what you will always get in return.

Apa yang kita tabur, itulah yang suatu saat nanti akan kita tuai.

Makanya kemaren ini gua pernah bilang khan kalo gua ngga setuju orangtua menanamkan ke anak2 mereka untuk gantian menjaga mereka di masa tua mereka nanti.

Menurut gua ngga adil membebankan hal itu ke anak mereka.

Tapii..

Yang gua yakin adalah.. kalo kita “nanam” benih yang bener ke anak kita selama kita membesarkan mereka, kita membuat mereka bisa merasakan cinta dan kasih sayang kita ke mereka, mendidik dengan ajaran yang ‘benar’, well..

Tanpa disuruh, diminta ataupun dipaksa, in our golden days nantinya, they will take care of us in return.

Lagian yang kaya ini lebih enak toh? Karena kesadaran sendiri.

Daripada mereka menjaga kita tapii dijutekin muluu dan dianggap sebagai beban pas kita tinggal ama mereka nantinya?!

Tapii.. ada juga tapi-nya neehh..

Dari benih yang baik, umumnya akan menghasilkan buah yang baik juga walau ngga menutup kemungkinan buahnya akan busuk juga, ahahaha, tapii.. lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan buah yang baik dan berkualitas dari benih yang juga berkualitas.

Sama halnya dengan dari benih yang kurang baik, well.. kasarnyaa.. what do you expect githu lhoo?! Walau tetapp.. ngga menutup kemungkinan akan tumbuh tanaman yang baik juga sih dari benih yang kurang baik.

Balik ke Schumacher.

Hmm..

Tetap aja sih.. kalo menurut gua hal yang salah itu ya seharusnya salah, no matter what the reasons or the backgrounds.

Cumann.. ketika kita mengetahui latar belakang kenapa sampai mereka menjadi seperti ituu, yaa setidaknya kita lebih bisa memahami perilaku mereka sekarang ini.

Karena it’s not an instant process, you know.

Takes years and banyak hal yang bisa terjadi dalam waktu tahunan.

And berkaca dari si Schumacher bersaudara itu gua makin merasa perlu untuk belajar menulikan telinga terhadap omongan orang lain, wakakakakak..

Karena apa?

Well.. pastinyaa.. ngga bisa donks tiap kali kita denger komentar negatif tentang diri kita, kita harus selalu sibuk menjelaskan tentang background kenapa kita menjadi seperti yang mereka tuduhkan ke kita?!

Pertamaa.. capee ‘boo!! Yaa kalo cuman satu orang aja yang nanya seehh mungkin masih dengan bersemangat kita berusaha meluruskan kesalahpahaman mereka ituu..

Tapii kalo ada banyak, masa iya kita harus jelasin satu per satu seeh?

And udah githuu.. elo pikir mereka bakal peduli juga apa setelah mengetahui latar belakang why we did what we did?

Belon tentu juga khan?

One thing for sure..

We can’t control what people might say, do or think about us.

And memang seharusnya kita ngga boleh mengkontrol mereka karena kita tentunya juga ngga mau khan kalo setiap pikiran yang melintas di kepala kita, setiap tindakan dan ucapan kita itu harus dikontrol oleh orang lain, emang mau?!

Gua sih ogaahh!!

Naahh.. since we cannot control them..

Bukan berarti juga harus menelan bulat2 omongan mereka untuk kemudian menjadi sakit hati sendiri, parnoan sendiri, dllsb..

Ada satu yang bisa kita kontrol, yaituu..

Our own reactions to their actions ^o^

Yupp..

That’s the skill that we should have mastered ‘boo karena in life akan selalu ada orang yang mungkin ngga senang dengan apa yang kita lakukan, ucapkan ataupun kita pikirkan, betapapun kita berusaha menyenangkan mereka and mengikuti apa yang mereka mauu..

Nope!

You cannot please anyone, ‘boo.. if you try to, you’ll end up losing yourself in doing so :p

Jadii.. itu gunanya in knowing yourself supaya apapun yang masuk nanti akan melewati filter dulu.

So what if they talk bad things about us?

Just as long as we know for sure kita ngga seperti yang mereka tuduhkan then that should be enough.

Semoga sih cukup, ahahaha :p

-Indah-

Advertisements