Ini bukan mo ngomongin soal “excuse me”, ahahaha :p

Ini lagi mo ngomongin soal excuse yang punya arti “alasan”, eehh.. bener ngga sih itu artinyaa?

😀

Ternyataa ada gunanya juga dulu gua suka nonton Oprah, karena sometimes from the episodes that I watched, it gave me something to think about 🙂

*apa gua-nya aja yang kebanyakan mikir?! Ahahaha :p*

Segala sesuatu pasti ada alasan di baliknya, alasan yang kadang langsung disadari oleh sang pelakuu tapii lebih sering kita ngga sadar akan alasan yang melatarbelakangi perbuatan yang kita lakukan karena sometimes pemicu kelakuan itu kita terkubur jauuuh di dasar hati yang tertutup oleh berbagai macam emosi yang perlu untuk dibuka lapisan demi lapisan yang menyelubunginya sebelon kita bisa bernapas dengan lega sambil berkata : there you are!

Ada satu episode di Oprah yang bikin gua jadi mikir.

Kalo ngga salah itu episode dengan topik “Why Did You Let Yourself Go?” yang mana dikumpulkanlah beberapa audiences yang membiarkan dirinya lepas kendali, ini berkaitan dengan berat badan seeh, huehehe..

Ada satu jawaban sang narasumber yang bikin gua jadi tercenung.

Wanita itu bilang gini, “I let myself go and become bigger like this because men would have less desire on bigger women.”

Seperti biasaa.. kurang lebih githu dhee jawaban si wanita itu yang disambar komentar Oprah dengan, “That’s ridiculous!! I never heard any excuses like that!!”

And gua jadi terdiam.

Don’t know why gua jadi teringat ama perkataannya Bang Napii (wakakakak.. ngga nyambung bangets yaa dari Oprah kok nyasar ke Bang Napii :p) yang selalu bilang gini :

Kejahatan terjadi bukan hanya karena adanya niatan tapi juga karena adanya kesempatan!

And dipikir2, emang bener apa yang dikatakan Bang Napi ituu..

Seberapapun besarnya niatan elo untuk melakukan kejahatan tapii kalo belon ada kesempatan yang pas untuk melakukannya yaa susah juga untuk melakukan kejahatan itu sendiri.

Sama halnya dengan kesempatan yang terbuka lebar tapi kalo orang yang diberikan kesempatan itu ngga punya niat untuk melakukan kejahatan itu yaa maka kejahatan itu ngga akan terjadi pula!!

Laluu..

Apa hubungannya dengan perkataan si wanita di atas itu?

Well..

Kalo gua ngga salah inget, si wanita itu juga bermasalah dalam rumah tangganya, hubungannya dengan sang suami udah dingin, ngga ada lagi romantisme dalam kehidupan pernikahan mereka.

Mengingat latar belakangnya ituu.. menurut gua it all made sense tentang alasan yang dikemukakan si wanita itu.

Gua ngeliatnya gini..

Mungkinn.. wanita itu menyadari kalo dirinya punya niatan untuk selingkuh karena ngga tahan akan situasi rumah tangganya dengan sang suami.

Dan wanita itu tahu bahwa selingkuh ngga akan memperbaiki kondisi hubungannya dengan sang suami, jadi untuk “mematikan” kesempatan untuk selingkuh itu secara ngga sadar dia “lari” ke makanan karena dengan kondisi tubuhnya yang udah ngga seksi lagii maka akan menjauhkan kaum lelaki yang berniat untuk main mata dengannya jadii kesempatan untuk selingkuh itu sendiri jadi ngga ada.

Ya iyalaahh.. gimana mo selingkuh kalo ngga ada yang bisa diselingkuhin?!

And gua jadi tersadar akan sesuatu.

Alasan di balik segala sesuatu itu personal sifatnya.

And buat yang ngga ngerasainnya, mungkin “alasan” itu akan terdengar konyol, menggelikan, ngga masuk akal, dllsb.

Tapii.. ngga demikian adanya untuk orang yang merasakannya itu sendiri.

Acapkali gua rasa kita sering lupa untuk bisa menghargai orang lain.

Seringkali kita mungkin menertawakan orang ketika mereka menceritakan sesuatu.

Dan kita lupa.. kita ngga merasakan apa yang dia rasakan.

Walau kita pernah berada dalam situasi yang sama sekalipun, tetap aja kita bukan dirinya, kita ngga merasakan emosi yang dia rasakan dalam menghadapi situasi itu, kita ngga tau persis pikiran2 apa aja yang melintas di otaknya selama harus melalui semuanya itu.

Kita ngga akan pernah tau.

Tapi bukan berarti kita boleh dengan bebas merdeka mengatakan bahwa alasannya itu terlalu mengada2.

Iyaa.. mungkin emang terdengar mengada2 untuk kita tapii..

Untuk orang yang bersangkutan, mungkin aja “alasan” itu terasa amat sangat nyata dan membelitnya dengan sedemikian kuatnya sehingga membuatnya sesak napas dan susah untuk melepaskan diri.

And latelyy..

I’ve just realized about my own “excuse” lately, ahahaha :p

Of course, as a balancer, sometimes I think my excuse is out of rational!

But.. I don’t know..

It felt so real and gua masih belon bisa melepaskan diri dari cengkramannya.

Gua masih belon bisa menekan mati tombolnya, and gua masih belon bisa meyakinkan diri gua bahwa gua bisa jadi berbeda dari apa yang gua liat selama ini.

Mungkin in a way karena gua menyadari kecenderungan gua untuk menjadi salah satu dari mereka kalo gua ada dalam kondisi itu, makanya why bother to be like them anyway since I hate that kind of people?!

Huaa.. setelah kemaren panas, kok seharian ini gua keringetan mulu yaa?! Mana jidat gua kembali dingin terus, aiihh.. what’s wrong with mee?!

-Indah-

Advertisements