Sabtu, 21 Maret 2009

Hmm..

Actually, I’ve been meaning to write about another topic buat postingan kali ini.

Tapi lagi2 harus tertunda karena ya ‘boo, gua ngga tau musti ngebahas apa tentang topik itu, hahaha :p

Soo..

Berhubung mentok, tadi pagi gua nonton film aja dhe, kali ini yang dapat giliran adalah filmnya Leonardo di Caprio & Kate Winslet, film berjudul ‘Revolutionary Road’.

Ada yang udah pernah nonton?

And after seeing this movie, I realized something..

Emang bener mendingan gua tuh jangan baca2 review tentang suatu film sebelum nonton filmnya, hahaha..

Karena ada salah satu blogger yang nulis di blognya kalau dia nangis2 nonton nih film.

Jadinyaa..

Instead of focusing on the movie itself, gua malah sibuk menerka2 bagian mana seeh yang bikin dia sampai nangis2, hihihi :p

Faktor itu ditambah faktor subtitle yang ngga match ama apa yang diomongin sehingga terpaksa di-off-in, masalahnyaa..

Kalau ngga ada subtitle gini maaahh bisa mati gaya nontonnya, hahaha, secara gua jadi ga bisa sepenuhnya ngerti cerita filmnya :p

Anywayy..

Karena faktor2 di atas, I might miss the things yang mustinya bisa gua pelajari dari film ini.

Tapi satu yang ngga luput gua dapatkan dari film ini adalah mengenai..

A cry for help..

Yupp.. That’s the thing I learn from this movie ^o^

How oftentimes we missed other’s cry for help and they miss ours.

Iya, jeritan putus asa terselubung yang mungkin terkadang kita lontarkan tanpa sadar.

Dengan harapan agar mereka yang mendengarnya cukup sensitif untuk tau bahwa kita sedang minta tolong.

Itu yang gua tangkap dari tokoh April yang diperankan Kate Winslet.

Sang suami ngga bisa menangkap jeritan minta tolong istrinya.

Bahkan ketika binar2 di mata istrinya mulai meredup ketika sang suami membatalkan rencana kepindahan mereka ke Paris, sang suami tetap ngga bisa menangkap kegundahan sang istri.

Atau ketika sang istri mengungkapkan rasa frustrasinya akan kehamilan anak ketiga mereka yang mana in a way secara ngga langsung dia mengutarakan isi hatinya yang merasa terjebak dalam pernikahan mereka dan anak2 hanyalah suatu ‘kesalahan’ yang ngga disengaja.

Frank (Leonardo di Caprio) bahkan menemukan peralatan untuk self-abortion yang sengaja dibeli oleh April but again, Frank missed her crying for help.

Mereka sempat bertengkar hebat yang mana April meneriakkan bahwa dirinya membenci Frank dan rasa cintanya pada Frank telah lenyap.

April kemudian menenangkan diri di hutan dekat rumah mereka dan meminta Frank membiarkannya sendirian untuk menenangkan pikiran.

Dan ketika keesokan harinya April berubah 180 derajat dari hari sebelumnya, dan pagi2 sudah menyambutnya penuh senyuman sambil menyiapkan sarapan dan makan berdua, Frank just take it as it is.

Kadang gua mikir..

We only see what our eyes want to see..

Sama seperti Frank, dirinya yang masih mencintai April, amat berharap semua yang April katakan kemarin hanyalah emosi sesaat belaka.

Karenanya ketika April bilang bahwa ia masih mencintai Frank, tanpa merasa curiga sedikit pun Frank langsung menelan bulat2 perkataan istrinya.

Frank juga ga bisa menangkap kesedihan di balik senyuman April.

Sepeninggal Frank yang pergi ke tempat kerja, April menangis sambil mencuci piring kotor bekas sarapan mereka.

Kemudian ia pergi ke kamar mandi dan melaksanakan niatannya untuk menggugurkan kandungan.

Perbuatan yang pada akhirnya merenggut nyawanya.

Have you ever cried for help but no one there to listen?

Kadang sih ya ‘bo, ‘jeritan’ itu sendiri ngga kita sadari.

Dan seringkali juga kita ngga bisa mendengar ‘jeritan’ minta tolong dari orang di sekitar kita.

Sometimes maybe we’re just too busy in giving advices that we forget to really listen to what the other has been trying to say..

Sometimes we need to read between the lines.

To pay more attention on the body gesture cause a slight change might be a signal of an untold emotion.

Lately pas gua lagi blogwalking in random, gua ‘nyasar’ ke blog2 yang punya satu kesamaan.

Kebanyakan dari penulis blog yang bersangkutan having a hard relationship with their parents.

Satu dua kali masih ngga terlalu merhatiin karena kadang postingan mereka bercampur dengan kehidupan sehari2 yang lepas dari cerita tentang ortu.

Sampai gua iseng ngubek2 file lama blog mereka.

And then I finally realized..

Wooww..

Ternyata banyak anak2 terluka di luar sana ya akibat perlakuan ortu mereka.

Telat bangets ya baru nyadar :p

Mm..

Some of their postings are really heart-breaking up to the point where they feel rejected by their own parents.

Bahwa kehadiran mereka di dunia ini merupakan ‘aib’ keluarga.

For whatever reasons, I do think it’s sad how family which should have been life’s basic loving foundation might turn into the cause of bleeding wounds to its member of the family.

How many times do parents miss hearing their children’s cry for help?

Instead they just keep on talking, yelling, screaming, even cursing and put more salt and lemon to the open wound and make the hurt goes deeper than before.

Menurut gua penting untuk memulihkan hubungan di antara anggota keluarga, antara orang tua dan anak serta hubungan antar saudara.

Karena again, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat.

Kalau unit ini aja udah rusak maka masyarakat yang terdiri dari unit2 keluarga yang akhirnya akan membentuk barisan sakit hati, huhuhu..

I cannot say from parents’ perspective since I’ve never been one.

All I can say is from a child’s point of view.

Do you really think it’s that important to hold on to traditions and the pressure of society that you sacrifice your own children’s happiness?

Do you?

Mungkin ini pentingnya dari apa yang gua pernah denger bahwa being a parent isn’t an easy job.

It takes more than just a sperm and an ovarium (eehh, bener ga? :p) to be a good parent.

Having a child doesn’t automatically make you a good father or mother!

You still need to learn along the way.

Ah ya, ada yang ketinggalan, hehehe..

Maksudnyaa, untuk jadi ortu yang baik itu katanya seeh penting untuk terlebih dahulu being a whole person, seseorang dengan pribadi yang ‘utuh’, yang udah puas ma kehidupan pribadinya yang sorangan wae and harus siap berbagi banyak hal dengan sang anak nantinya.

Karena kalau belum puas akan kehidupannya, kehadiran anak itu bisa jadi beban buat sang ortu nantinya.

Gimana ngga jadi beban kalau sang ibu (karena sang ayah khan mustinya kerjaa) ngerasa waktunya habis hanya untuk mengurusi anaknya padahal dia masih mau bersenang2 dengan teman2nya and ngga digerecokin ma anaknya itu.

Terkadang tanpa sadar, ortu juga mentransfer impian mereka ke anaknya and somehow betapapun sang anak berhasil mewujudkan impian orangtua-nya, sang ortu tetap aja ngga puas akan prestasi sang anak.

Kenapa?

Karena ortunya yang memimpikan hal itu, sehingga ya harus mereka sendiri yang mewujudkannya buat bisa ngerasain kenikmatan dari terwujudnya sebuah impian.

Sementara impian sang anak mungkin adalah membahagiakan ortunya dengan mewujudkan cita2 mereka tapi impian sang anak pun gagal terwujud karena sang ortu tetap tidak bahagia.

Mungkin ada baiknya kalau para ortu itu meluangkan waktu untuk membaca blog anak2 mereka supaya mereka bisa tau apa yang ada dalampikiran anak mereka, apa yang mereka rasakan.

Karena terkadang banyak hal2 yang ngga bisa sang anak sampaikan secara langsung di hadapan orangtuanya.

Bukan karena ngga mau, tapi lebih karena cape karena ngga pernah didengarkan atau ngga tiap kali ngomong pasti dhe ujung2nya ribut, males khan kalau udah githu situasinya?

Soo..

Kayanya musti mulai mengasah diri untuk lebih peka and lebih bisa mendengar jeritan dan tangisan minta tolong dari orang-orang di sekitar kita.

Sebelum semuanya terlambat dan penyesalan tidak lagi ada gunanya.

Jadi mikirr..

Udah berapa kali ya gua ber-cry for help tapi ga ada yang nanggapin?

Huehehehe :p

Well, kayanya ‘Revolutionary Road’ musti ditonton ulang, siapa tau banyak hal2 lain yang bisa gua pelajari dari film itu 🙂

-Indah-

(repost from my blog : http://living-in-wonderland.blogdrive.com/archive/125.html)

Advertisements